natahara: freedom of writing
Rabu, 14 Maret 2012
the bloody month of exam
tanggal berapa sekarang? seinget gue tadi ketika mengerjakan soal, sekarang ini tanggal 15 maret. dan hari ini gue baru saja melewati prauas hari ke-4 dan saat ini sukses menghangatkan diri di perpus bagian pojok sepojok-pojoknya *dibelakang rak buku* karena udara marsud saat ini tidak kondusif dan hampir menyaingi udara di manchester city pada musim dingin. ac merajalela di setiap kelas, bahkan masing-masing diisi 2 ac. belum fasilitas yang lainnya. jadi bisa dipastikan dalam beberapa tahun ke depan setelah kami semua angkatan 16 lulus dari sma marsudirini bekasi, adik-adik kelas dan guru-guru akan menurun daya tahannya karena pengaruh dari lingkungan yang tidak sehat ini. hahaha! *ketawa jahat*
sempet gw ngobrol dengan temen-temen dari sekolah lain. yah, bukan ngobrol beneran tatap muka langsung sih, tapi gw memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dengan baik dan benar untuk berkomunikasi dengan mereka via internet atau sms. internet dengan facebook atau twitter (dan agaknya gue sudah menjadi twitter addict mengingat seringnya gue ngepost gak jelas sampe temen gue si dio @dvhck ngomel di kelas karena tiap kali buka hp ada nama gue), beberapa temen mulai nanyain rencana universitas, ujian di sekolah, dan yang agak miring sedikit (thomas milano setiawan) yang ngajakin main pas ujian praktik. di status atau tweet temen-temen gue kebanyakan temanya sama: ujian.. ujian.... ujiaann...... bosen.. sibuk... cape les, cape bimbel, dsb dsb; gue curiga mata mereka semua sekarang juling akibat kebanyakan ngerjain soal dan ngelingkerin jawaban di LJK (lembar jawab komputer)
bagaimana dengan gue?
jawabnya: -____________________________________________________________-
beda dengan temen-temen yang lain, gue memutuskan untuk tidak mengikuti bimbel apapun. mulai dari bimbel sekolah, bimbel di luar, gw tidak mengikuti bimbel. alasannya sebenernya sederhana, gak ada biaya. ketika gw melihat biaya bimbel salah satu temen gue yang mencapai beberapa digit dengan enam angka nol dibelakangnya, yg gw bayangkan adalah, oh good lord, gue bayar spp aja suka susah gimana bayar bimbel segitu mahalnya. Biaya itu mungkin lebih baik gw pakai untuk keperluan lain, tapi seandainya gue punya kantong yang lebih dalam gw gak akan segan mengikuti bimbel macam itu. dan tanpa bimbel, yang gue lakukan hanya menonton temen gue yang menghabiskan waktu luang dengan soal-soal latihan sedang gue nge-random di pojokan kelas dengan para pemalas.
dan tanpa bimbel itu, ditambah dengan tanpa adanya kegiatan sekolah dan segala macamnya, otomatis gue memiliki masa senggang yang amat panjaaaaaaaaaaanngggggggg alias nganggur. jadi, ketika temen-temen gue yang lain sibuk, gue malah nganggur. agak gak tau diri sebenernya, karena para guru gencar menyuruh latihan sedang gue menghabiskan waktu dengan hibernasi di rumah.
ada saat dimana gue merasa yak, ayo nat, lo harus belajar sekarang! dan yang gue lakukan adalah:
- duduk di depan meja belajar,
- menatap lampu belajar yg dari neon warna putih,
- mulai membuka latihan soal,
- nggak ngerti soalnya, lewatin
- nggak ngerti lagi
- nggak ngerti lagi
- menatap lampu belajar
- tidur
nb. buat yang mau lulus uas atau uan, cara belajar seperti ini tidak untuk ditiru.
dan gue baru belajar bener-bener H-1 sesuai dengan mata pelajaran UAS ini. bahkan untuk try out gue gak pernah belajar dan meraih hasil yang sangat tragis: dimarahi wali kelas dan nyokap. 2 lawan 1. curang bener.
and this bloody month of exam isn't over yet.
setelah UAS masih ada UAN. dan berarti gue akan menjalani hari-hari dengan pendalaman materi. cobaan bertambah berat dengan dipasangnya ac di kelas, gue dan para pemalas akan berjuang keras menahan kantuk dan dinginnya udara ac.
satu hal yang menjadi salah satu motivasi yang gue mulai lupakan yaitu: bokap.
gue baru sadar ketika tanggal 13 kemarin, hari itu tepat peringatan 4 tahun meninggalnya bokap gue. awalnya gue menjalani itu dengan tertawa-tertawa aja, minta doain ke temen deket dan bikin status segala macem *ababil, i know, bodo* dan mereka pun memberi timbal balik yang sangat menguatkan gue seperti "semangat kak!" "natal harus kuat! tetep semangat! your dad should be proud of you now!"
dan yang terakhir itu menghenyakkan hati gue. does he proud of me now?
ingatan gue kembali ke penerimaan hasil try out, ketika nyokap dan wali kelas gue ngomel habis-habisan melihat nilai gw yang hancur dan ketidak seriusan gue menghadapi masa try out. disitu aja gue udah nangis diomelin segala macem *yah memang memalukan, tapi gue memang layak mendapatkannya* sampe temen-temen gue heran. dan itu cuma nyokap dan bu reni yang ngomelin gue. dari situ gue mengalami deja vu, hampir 5 tahun yang lalu.
----
saat itu gue kelas 8 SMP, semester pertama, tahun 2007. hari itu adalah hari terakhir bokap yang mengambil rapor hasil belajar gue. saat itu nilai gw tidak terlalu baik, dan saat itu ekspresi bokap saat sedih. sedih. marah. yang pastinya dia kecewa banget sama gue. sepulangnya di jalan, di rumah, sampe beberapa hari bokap diemin gue terus. nggak ada ekspresi, kecewa dengan performa gue yang kurang baik. dan sekitar tiga bulan setelah itu bokap nggak ada.
----
hal itu kembali yang terbesit di pandangan gw. bukan nyokap atau bu reni lagi ngomelin gue, melainkan ekspresi kecewa bokap gw. disitu gw baru sadar, selama ini gue terlalu lama menunda waktu belajar dan menjadi pemalas. bokap gw nggak akan bangga kalo gue cuma punya semangat untuk belajar bukannya belajar itu sendiri. dan gue nggak mau membuat bokap gw sedih, apalagi di saat terakhir itu gue nggak bisa memberikan yang terbaik.
masih ada sebulan lagi sebelum uan tanggal 16-19 april. sebulan waktu untuk gue dan jutaan murid kelas 12 lainnya untuk mengejar ketinggalan sampai penentuan itu tiba.
good luck semuanya!
Sabtu, 07 Januari 2012
selamat pagi,
ini adalah posting pertama yg gw lakukan di 2012 dan gue akan berusaha melupakan love issue itu di belakang. Teringat salah satu line yang gw dengar di episode ke-13 Laskar Pelangi the series, yang diucapkan oleh tokoh-siapa-itu-namanya-gw-lupa:
"Jika gadis itu memang untuk kau, ia akan datang lagi, Kal."
dan bagi gue pastinya gak nunggu cewek, gue masih straight dan gue akan menunggu cowok. *teknisnya*
well. Setengah tahun pertama di 2012 adalah bulan-bulan derita. Di skip di bulan Mei. Kemarin guru matematika sekaligus wakasek sekolah gw menyampaikan agenda sampai 4bulan ke depan. Januari diisi dengan penyelesaian materi kelas 12, lalu try out. Februari mulai pendalaman materi, lalu try out lagi. Maret, ujian sekolah. April, uan tgl 16-19. Rasanya pasti kayak neken tombol fast forward dan tau-tau ntar udh wisuda aja. Begitu cepat kami ditendangdari 'kampus' tercinta Marsudirini Bekasi.
Masalah berikutnya datang dari diri sendiri. Terkadang melihat saingan-saingan gw yang bujud....pinter banget... Gue menjadi agak sedikit kehilangan motivasi karena minder. Bidang yang gue pilih ini sangat umum, sangat banyak peminatnya. Beda sama temen-temen gue yang merasa jelas kemana hidupnya dipanggil. Gue mikir lagi, gimana kalo gue gak dapet? Setidaknya gue harus berpikir realistis dan mencari pilihan kedua. Nah, itu dia yang gue belum bisa memutuskan apa.
Thomas: teknik kimia
gue: bisa stress gue mas.
Irene: teknik lingkungan, mbir!
gue: boleh juga sih..
Albert: lu cocok fisip nat, idealisme lu kuat
gue: *cengo*
Obed: ngg.. Lu mau masuk HI nat?
gue: kenapa bisa mengira gue masuk HI?
Obed: yah.. Keliatannya gitu nat.
Kak Siska, dan temen nyokap, dan beberapa lainnya: Psikologi nat.
gue: kok gitu?
Mereka: abis lu kan seneng mengamati perilaku orang-orang.
Bu Reni: akuntansi, Natalya.
Gue: saya gak mau ngitungin duit orang, bu...
Kukuh: mesin, Nat... Biar ada ceweknya.
Gue: ini pasti kareena lw desperate dikelilingi cowok semua.
Debora, temen-temen sekelas gue: Arsitektur, Nat!
Gue: di keluarga bokap arsitek semua...
Mas Brian: manajemen? Bisnis? Perhotelan? Kamu jadi chef aja, Yak, bikin restoran sendiri. Udah jangan masuk yang teknik atau kedokteran, tar kerjanya buat orang lain, itu aja dek kan kamu bisa bikin lapangan kerja sendiri. *sodara gue yang satu ini terus merayu dan mencuci otak gue*
Gue: *mangap*
keluarga Semarang: wis sing aman wae.. Kebidanan aja kayak mba Sisil.
Gue: *dalam hati gue berpikir, gue kaku banget nanganin anak dan ibu hamil, takut aja malah gue yang panik pas ibu hamilnya mau mbrojol*
dari semuanya itu satu kesimpulan gue: BINGUNG! Astaga banyak sekali ini pilihannya, gue jadi heran plus bingung sendiri karena bakat itu emang ada tapi gue bingung sendiri yang mana buat pilihan kedua gue kelak? Gak ush negri toh ga masalah selama ada beasiswa dan akreditasinya bagus.
Sepertinya minggu depan bakal diadakan sesuatu yang berkenaan dengan pendaftaran kuliah, karena disuruh ngumpulin rapot. Rata-rata gue cukup lumayan, yah gue harap saja bisa masuk salah satu biar ada cadangan plus ngukur kemampuan.
Baiklah, selamat hari Minggu. Buat yang angkatan-angkatan akhir ini berjuangah sampai titik terakhir!!!
God bless all.
ini adalah posting pertama yg gw lakukan di 2012 dan gue akan berusaha melupakan love issue itu di belakang. Teringat salah satu line yang gw dengar di episode ke-13 Laskar Pelangi the series, yang diucapkan oleh tokoh-siapa-itu-namanya-gw-lupa:
"Jika gadis itu memang untuk kau, ia akan datang lagi, Kal."
dan bagi gue pastinya gak nunggu cewek, gue masih straight dan gue akan menunggu cowok. *teknisnya*
well. Setengah tahun pertama di 2012 adalah bulan-bulan derita. Di skip di bulan Mei. Kemarin guru matematika sekaligus wakasek sekolah gw menyampaikan agenda sampai 4bulan ke depan. Januari diisi dengan penyelesaian materi kelas 12, lalu try out. Februari mulai pendalaman materi, lalu try out lagi. Maret, ujian sekolah. April, uan tgl 16-19. Rasanya pasti kayak neken tombol fast forward dan tau-tau ntar udh wisuda aja. Begitu cepat kami ditendangdari 'kampus' tercinta Marsudirini Bekasi.
Masalah berikutnya datang dari diri sendiri. Terkadang melihat saingan-saingan gw yang bujud....pinter banget... Gue menjadi agak sedikit kehilangan motivasi karena minder. Bidang yang gue pilih ini sangat umum, sangat banyak peminatnya. Beda sama temen-temen gue yang merasa jelas kemana hidupnya dipanggil. Gue mikir lagi, gimana kalo gue gak dapet? Setidaknya gue harus berpikir realistis dan mencari pilihan kedua. Nah, itu dia yang gue belum bisa memutuskan apa.
Thomas: teknik kimia
gue: bisa stress gue mas.
Irene: teknik lingkungan, mbir!
gue: boleh juga sih..
Albert: lu cocok fisip nat, idealisme lu kuat
gue: *cengo*
Obed: ngg.. Lu mau masuk HI nat?
gue: kenapa bisa mengira gue masuk HI?
Obed: yah.. Keliatannya gitu nat.
Kak Siska, dan temen nyokap, dan beberapa lainnya: Psikologi nat.
gue: kok gitu?
Mereka: abis lu kan seneng mengamati perilaku orang-orang.
Bu Reni: akuntansi, Natalya.
Gue: saya gak mau ngitungin duit orang, bu...
Kukuh: mesin, Nat... Biar ada ceweknya.
Gue: ini pasti kareena lw desperate dikelilingi cowok semua.
Debora, temen-temen sekelas gue: Arsitektur, Nat!
Gue: di keluarga bokap arsitek semua...
Mas Brian: manajemen? Bisnis? Perhotelan? Kamu jadi chef aja, Yak, bikin restoran sendiri. Udah jangan masuk yang teknik atau kedokteran, tar kerjanya buat orang lain, itu aja dek kan kamu bisa bikin lapangan kerja sendiri. *sodara gue yang satu ini terus merayu dan mencuci otak gue*
Gue: *mangap*
keluarga Semarang: wis sing aman wae.. Kebidanan aja kayak mba Sisil.
Gue: *dalam hati gue berpikir, gue kaku banget nanganin anak dan ibu hamil, takut aja malah gue yang panik pas ibu hamilnya mau mbrojol*
dari semuanya itu satu kesimpulan gue: BINGUNG! Astaga banyak sekali ini pilihannya, gue jadi heran plus bingung sendiri karena bakat itu emang ada tapi gue bingung sendiri yang mana buat pilihan kedua gue kelak? Gak ush negri toh ga masalah selama ada beasiswa dan akreditasinya bagus.
Sepertinya minggu depan bakal diadakan sesuatu yang berkenaan dengan pendaftaran kuliah, karena disuruh ngumpulin rapot. Rata-rata gue cukup lumayan, yah gue harap saja bisa masuk salah satu biar ada cadangan plus ngukur kemampuan.
Baiklah, selamat hari Minggu. Buat yang angkatan-angkatan akhir ini berjuangah sampai titik terakhir!!!
God bless all.
Selasa, 27 Desember 2011
love issue pt II: now
Selang waktu itu di kuliah, gue sekolah. Gue masih dngn perasaan yang sama ke dia, walau dia hanya menganggap gue adiknya. Saat itu gue sibuk dengan acara sekolah, merancang ekskul gue dengan sesempurna mungkin. Liontin dari dia seolah membuat gw semangat: 'gue ga akan ngecewain lo.'
dan karena capek, gue emosional. Dia sms pun gue bales dengan jutek sehingga menimbulkan salah paham. Gue kecapean dan tepar sehari semalam, dan ternyata dia sms gue banyak sekali, mengira gue ga mau ngehubungin dia lagi, sampai paginya gue mencoba minta maaf. Tapi terjadi salah paham lagi dan dia menyuruh gue memutuskan semua hubungan dengan dia. Liontinnya pun tersuruk di ujung laci. Padahal perasaan gue ga berubah dan tetap untuk dia. Gue ga bisa tenang berminggu-minggu. Tersiksa. Rasanya ada luka yang gak bisa sembuh disana.
Hampir 2 bulan, kami nggak berkomunikasi sama sekali. Dingin. Dan sakit banget. Karena salah paham jadi seperti itu. Sampai akhirnya guememinta maaf, mengirimkan sms yang puaanjaangg banget isinya 'sorry' dan lain sebagainya. Lepas dari dia memaafkan gue atau tidak, tapi yg penting gue lega.
Dan dia memaafkan. Tapi dia meminta gue untuk berjanji untuk membuang hal yg dia kasih jika gue udh menemukan seseorang baru. Gue gak bs berkata apa-apa.
Dan gue terus berharap.
Dan berharap.
Padahal akal rasional gue mengatakan untuk tinggalkan saja dia.
Sampai sekarang.
10 Desember.
Dia sms gue sehari sebelumnya kalau kemungkinan dia mau ke sekolah, ketemu gurunya. Gue setengah berharap dia mau ngobrol walau sedikit. Gue udh ga ketemu dia setengah tahun. Tapi.. Dia gak dateng.
Pulang ke rumah, gue diem. Mati rasa di kamar. Gue menatap liontin itu. Gue geletakkan bgitu aja di sisi tempat tidur. Sakit rasanya tetep berharap seblah tangan. Lalu setelah nangis, gue bangun, nyiapin makrab malemnya, meninggalkan itu di rumah.
Sampai ketika gue mau mencari lagi... Liontin itu lenyap. Gue kira jatuh ke kolong tempat tidur. Karena rasanya masih pedih, gw biarkan sampai hilang rasa sakit itu. Beberapa hari, nyokap ngecat ulang rumah, termasuk kamar gue. Setelah itu gue mulai cari lagi liontin itu. Gue geser kasur yg berat banget, senterin kolongnya.. Gak ada.
Gue panik.
Gak ada. Sama sekali gak ada.
Tapi gue masih tenang. Gak mungkin gak ada. Gue tinggalin di tempat itu, ga mungkin ilang..
Lalu natalan. Setelah nunggu seharian, dia ngucapin selamat ultah, lewat social network. Dengan panggilannya yang khas ke gue. Yg jarang dia ungkapkan di publik, bahkan dia biasanya cuek sama gue tapi ramah sama org lain. Harapan gue tercapai. Dan dia tetep se-care yang gue inget. Bersimpati atas pencapaian gue yg kurang baik dan tetep menyemangati gue.
Gue cari lagi liontin itu.
Nihil.
Gue mulai berkaca-kaca.
Gak ada. Lenyap.
Gue malah dimarahi nyokap, karena kalut oleh benda 'sepele' itu.
Gak peduli.
Gue tetep kukuh nyari.
Nihil. Gak ada.
Gue inget waktu itu kamar gue dicat ulang. Perabot pasti dipindah, mungkin liontin itu jatuh dan disapu. Hilang.
Gue lemes. Nangis. Gatau arah. Gue gak peduli dengan semuanya.
Hilang.
Hilang.
Dan gue gak ngerti apa yg harus gue lakukan.
dan karena capek, gue emosional. Dia sms pun gue bales dengan jutek sehingga menimbulkan salah paham. Gue kecapean dan tepar sehari semalam, dan ternyata dia sms gue banyak sekali, mengira gue ga mau ngehubungin dia lagi, sampai paginya gue mencoba minta maaf. Tapi terjadi salah paham lagi dan dia menyuruh gue memutuskan semua hubungan dengan dia. Liontinnya pun tersuruk di ujung laci. Padahal perasaan gue ga berubah dan tetap untuk dia. Gue ga bisa tenang berminggu-minggu. Tersiksa. Rasanya ada luka yang gak bisa sembuh disana.
Hampir 2 bulan, kami nggak berkomunikasi sama sekali. Dingin. Dan sakit banget. Karena salah paham jadi seperti itu. Sampai akhirnya guememinta maaf, mengirimkan sms yang puaanjaangg banget isinya 'sorry' dan lain sebagainya. Lepas dari dia memaafkan gue atau tidak, tapi yg penting gue lega.
Dan dia memaafkan. Tapi dia meminta gue untuk berjanji untuk membuang hal yg dia kasih jika gue udh menemukan seseorang baru. Gue gak bs berkata apa-apa.
Dan gue terus berharap.
Dan berharap.
Padahal akal rasional gue mengatakan untuk tinggalkan saja dia.
Sampai sekarang.
10 Desember.
Dia sms gue sehari sebelumnya kalau kemungkinan dia mau ke sekolah, ketemu gurunya. Gue setengah berharap dia mau ngobrol walau sedikit. Gue udh ga ketemu dia setengah tahun. Tapi.. Dia gak dateng.
Pulang ke rumah, gue diem. Mati rasa di kamar. Gue menatap liontin itu. Gue geletakkan bgitu aja di sisi tempat tidur. Sakit rasanya tetep berharap seblah tangan. Lalu setelah nangis, gue bangun, nyiapin makrab malemnya, meninggalkan itu di rumah.
Sampai ketika gue mau mencari lagi... Liontin itu lenyap. Gue kira jatuh ke kolong tempat tidur. Karena rasanya masih pedih, gw biarkan sampai hilang rasa sakit itu. Beberapa hari, nyokap ngecat ulang rumah, termasuk kamar gue. Setelah itu gue mulai cari lagi liontin itu. Gue geser kasur yg berat banget, senterin kolongnya.. Gak ada.
Gue panik.
Gak ada. Sama sekali gak ada.
Tapi gue masih tenang. Gak mungkin gak ada. Gue tinggalin di tempat itu, ga mungkin ilang..
Lalu natalan. Setelah nunggu seharian, dia ngucapin selamat ultah, lewat social network. Dengan panggilannya yang khas ke gue. Yg jarang dia ungkapkan di publik, bahkan dia biasanya cuek sama gue tapi ramah sama org lain. Harapan gue tercapai. Dan dia tetep se-care yang gue inget. Bersimpati atas pencapaian gue yg kurang baik dan tetep menyemangati gue.
Gue cari lagi liontin itu.
Nihil.
Gue mulai berkaca-kaca.
Gak ada. Lenyap.
Gue malah dimarahi nyokap, karena kalut oleh benda 'sepele' itu.
Gak peduli.
Gue tetep kukuh nyari.
Nihil. Gak ada.
Gue inget waktu itu kamar gue dicat ulang. Perabot pasti dipindah, mungkin liontin itu jatuh dan disapu. Hilang.
Gue lemes. Nangis. Gatau arah. Gue gak peduli dengan semuanya.
Hilang.
Hilang.
Dan gue gak ngerti apa yg harus gue lakukan.
love issue pt I: the good bye
'..If you have to leave,
I wish that you would just leave.
'Cause your presence still lingers here,
and it won't leave me alone...'
My Immortal - Evanescence
Gue sangat suka lagu ini, entah udh berapa tahun berselang. Gue bahkan lupa kapan denger ini, tapi gue menjadi suka liriknya, dan gue sangat bangga dulu bisa memainkan lagu ini dengan piano *walaupun sekarang udah lupa*
awalnya gue nggak begitu paham 'jiwa' di dalam lagu ini. Sejauh yang gue tau hanyalah lagu ini jadi backsound di film Daredevil waktu ayah tokoh ceweknya meninggal. Tapi kali ini gue tidak sedang meratapi kepergian bokap gue 3,5th yg lalu. Seperti judulnya, about love issue.
Gue menyukai pria ini. Sebut saja SNJD (seseorang nun jauh disana). Dia adalah kakak kelas setingkat diatas gue. Tahun 2010, gue berkenalan secara resmi dengan dia, tepat ketika gue dilantik jadi humas voli. SNJD ngajak ketemu di perpus, saat itu gue agak trauma untuk ketemu org yg belum pernah ditemui sebelumnya, jadi gue saat itu takut-takut untuk kenalan.
Disitu kisah awal. Lalu hilang.
Tapi entah mengapa gue merasakan dorongan lain dengan SNJD. Bukan dorongan untuk nabok dia pastinya. Gue sering berpapasan dengan dia di lorong sekolah, di gerbang sekolah, dan tentu aja perpustakaan. Saat itu perpus masih neraka, belom ada AC, komputer nyetrum, koleksi buku belum banyak. Entah darimana gue mulai tertarik, padahal gue nggak pernah ngobrol lagi sm dia.
Kayak remaja SMA kebanyakan, gue mencoba menghimpun informasi ttg dia. Akhirnya gue memberanikan diri untuk menyapa dia duluan. Dan ternyata dia ramah sama gue. Sejak saat itu kami bisa ngobrol sesekali, nggak sering kayak org pdkt, sangat jarang. Hanya ketika dekat-dekat bulan purnama, kayak werewolf. Dia mulai bs cerita ke gue ttg masalahnya, tp tetap gue hanyalah adik buat dia.
Setahun berselang, 2011. Gue mulai bisa melupakan dia. Menganggap dia cuma sekedar crush, sama dengan yg udh terjadi sebelum-sebelumnya. Jujur aja, dia bukan sosok yg sesempurna yang gue harapkan. Sikapnya kadang kurang dewasa, agak manja, cuek setengah mampus, jadi gue rasa 'ah. Yaudahlah ya ini cuma karena gue suka ngeliatin dia aja.' Tapi ada kalanya dia tiba-tiba sms gue, dan bersikap sangat care. Disitu gue gak ngerti dengan diri gue sendiri.
Sampai tiba saatnya dia akan lulus. Universitasnya di kota B, sedang gue sekarang di kota Bekasi yang jaraknya cukup jauh, dan gue berencana utk kuliah di kota J(Jauh). Jurusannya pun beda jauh dengan jurusan gue. Sampai akhirnya gue menyerah dan memendam perasaan itu. Gue mencoba melupakan dia. Lalu datanglah SDEG (seseorang dari ekskul gue), SDEG ini sahabatnya SNJD. Dia jg jd temen bicara gue ketika ekskul, disit kita dekat. Sampai SDEG akhirnya nembak gue. Karena perasaan sesaat dan hasrat untuk melupakan SNJD, gue terima dia.
Dan gue memilih keputusan yang amat salah dengan alasan yang amat salah pula.
Pesta kelulusannya, gue harus dtg karena ekskul gue ngisi acara. Seragam waktu itu putih-hitam. Sama seperti mereka berdua yang pake setelan rapi untuk kelulusan. Disitu gue merasa kagum sama SNJD. Perasaan yg ga boleh gue alami, dan itu terus berlangsung. Karena ketika gue jadian, SNJD malah semakin ramah dgn gw.
Sampai tak tertahankan lagi. SNEG bertengkar dengan gue. Dia sadar ada yg salah antara gue dan SNJD. Kami putus, dengan dia yg jd korban. Marah gak keruan. Dan gue tau itu adlah kesalahan gue, dan gue sangat bodoh melakukan hal itu.
Sampai tiba. Kamis, 16 Juni.
SNJD mengajak gue ketemu. Pertemuan itu tertunda 3hari, shg gue menunggu dia slm 3hari itu terus menerus di kantin, karena perpus tutup. Dia menanyakan alasan gue putus, dan bahkan dia gak tau gw jadian dgn sahabatnya. Gue menceritakan segalanya, sampai dia bertanya: 'emang lo suka siapa sebenernya?'
mati gue. Masa cewek yang ngomong. Gak salah apa? Bisa dianggep agresif, bahkan cheesy..gue merasa sebagai salah satu dari tokoh antagonis di sinetron.
Tapi gue sadar, itu saat terakhir gue akan bertemu dia langsung (setidaknya benar sampai detik ini). Gue pun menyatakannya, tanpa berharap lebih. Dan dia menolak. It's ok. Gw lebih takut gak akan ketemu dia lagi sesudah ini. Dan dia memberi gue sebuah liontin bunda maria, yang gue tau dia dapatkan dari retreat. Dia meminta gue untuk menjaganya baik-baik. Gue masih bisa mengingat kata-kata dia terakhir di depan ruang kelas XIIA4, suaranya, tangannya, sambil mengelus kepala gue: 'jangan ngecewain gue ya.'
gue naik ke kelas gue di lt 3, dia berjalan lambat ke depan TU, ke arah gerbang. Sesaat dia berhenti, menatap gue, lalu tersenyum smbl melambaikan tangan. Dia naik angkot (dan bahkan itu gue bayarin dulu), lalu gue menangis. gue lebih takut dengan gue gak akan bisa ketemu dia lagi. Tapi dia masih berhubungan baik dengan gue.
Baiklah. Bersambung.
I wish that you would just leave.
'Cause your presence still lingers here,
and it won't leave me alone...'
My Immortal - Evanescence
Gue sangat suka lagu ini, entah udh berapa tahun berselang. Gue bahkan lupa kapan denger ini, tapi gue menjadi suka liriknya, dan gue sangat bangga dulu bisa memainkan lagu ini dengan piano *walaupun sekarang udah lupa*
awalnya gue nggak begitu paham 'jiwa' di dalam lagu ini. Sejauh yang gue tau hanyalah lagu ini jadi backsound di film Daredevil waktu ayah tokoh ceweknya meninggal. Tapi kali ini gue tidak sedang meratapi kepergian bokap gue 3,5th yg lalu. Seperti judulnya, about love issue.
Gue menyukai pria ini. Sebut saja SNJD (seseorang nun jauh disana). Dia adalah kakak kelas setingkat diatas gue. Tahun 2010, gue berkenalan secara resmi dengan dia, tepat ketika gue dilantik jadi humas voli. SNJD ngajak ketemu di perpus, saat itu gue agak trauma untuk ketemu org yg belum pernah ditemui sebelumnya, jadi gue saat itu takut-takut untuk kenalan.
Disitu kisah awal. Lalu hilang.
Tapi entah mengapa gue merasakan dorongan lain dengan SNJD. Bukan dorongan untuk nabok dia pastinya. Gue sering berpapasan dengan dia di lorong sekolah, di gerbang sekolah, dan tentu aja perpustakaan. Saat itu perpus masih neraka, belom ada AC, komputer nyetrum, koleksi buku belum banyak. Entah darimana gue mulai tertarik, padahal gue nggak pernah ngobrol lagi sm dia.
Kayak remaja SMA kebanyakan, gue mencoba menghimpun informasi ttg dia. Akhirnya gue memberanikan diri untuk menyapa dia duluan. Dan ternyata dia ramah sama gue. Sejak saat itu kami bisa ngobrol sesekali, nggak sering kayak org pdkt, sangat jarang. Hanya ketika dekat-dekat bulan purnama, kayak werewolf. Dia mulai bs cerita ke gue ttg masalahnya, tp tetap gue hanyalah adik buat dia.
Setahun berselang, 2011. Gue mulai bisa melupakan dia. Menganggap dia cuma sekedar crush, sama dengan yg udh terjadi sebelum-sebelumnya. Jujur aja, dia bukan sosok yg sesempurna yang gue harapkan. Sikapnya kadang kurang dewasa, agak manja, cuek setengah mampus, jadi gue rasa 'ah. Yaudahlah ya ini cuma karena gue suka ngeliatin dia aja.' Tapi ada kalanya dia tiba-tiba sms gue, dan bersikap sangat care. Disitu gue gak ngerti dengan diri gue sendiri.
Sampai tiba saatnya dia akan lulus. Universitasnya di kota B, sedang gue sekarang di kota Bekasi yang jaraknya cukup jauh, dan gue berencana utk kuliah di kota J(Jauh). Jurusannya pun beda jauh dengan jurusan gue. Sampai akhirnya gue menyerah dan memendam perasaan itu. Gue mencoba melupakan dia. Lalu datanglah SDEG (seseorang dari ekskul gue), SDEG ini sahabatnya SNJD. Dia jg jd temen bicara gue ketika ekskul, disit kita dekat. Sampai SDEG akhirnya nembak gue. Karena perasaan sesaat dan hasrat untuk melupakan SNJD, gue terima dia.
Dan gue memilih keputusan yang amat salah dengan alasan yang amat salah pula.
Pesta kelulusannya, gue harus dtg karena ekskul gue ngisi acara. Seragam waktu itu putih-hitam. Sama seperti mereka berdua yang pake setelan rapi untuk kelulusan. Disitu gue merasa kagum sama SNJD. Perasaan yg ga boleh gue alami, dan itu terus berlangsung. Karena ketika gue jadian, SNJD malah semakin ramah dgn gw.
Sampai tak tertahankan lagi. SNEG bertengkar dengan gue. Dia sadar ada yg salah antara gue dan SNJD. Kami putus, dengan dia yg jd korban. Marah gak keruan. Dan gue tau itu adlah kesalahan gue, dan gue sangat bodoh melakukan hal itu.
Sampai tiba. Kamis, 16 Juni.
SNJD mengajak gue ketemu. Pertemuan itu tertunda 3hari, shg gue menunggu dia slm 3hari itu terus menerus di kantin, karena perpus tutup. Dia menanyakan alasan gue putus, dan bahkan dia gak tau gw jadian dgn sahabatnya. Gue menceritakan segalanya, sampai dia bertanya: 'emang lo suka siapa sebenernya?'
mati gue. Masa cewek yang ngomong. Gak salah apa? Bisa dianggep agresif, bahkan cheesy..gue merasa sebagai salah satu dari tokoh antagonis di sinetron.
Tapi gue sadar, itu saat terakhir gue akan bertemu dia langsung (setidaknya benar sampai detik ini). Gue pun menyatakannya, tanpa berharap lebih. Dan dia menolak. It's ok. Gw lebih takut gak akan ketemu dia lagi sesudah ini. Dan dia memberi gue sebuah liontin bunda maria, yang gue tau dia dapatkan dari retreat. Dia meminta gue untuk menjaganya baik-baik. Gue masih bisa mengingat kata-kata dia terakhir di depan ruang kelas XIIA4, suaranya, tangannya, sambil mengelus kepala gue: 'jangan ngecewain gue ya.'
gue naik ke kelas gue di lt 3, dia berjalan lambat ke depan TU, ke arah gerbang. Sesaat dia berhenti, menatap gue, lalu tersenyum smbl melambaikan tangan. Dia naik angkot (dan bahkan itu gue bayarin dulu), lalu gue menangis. gue lebih takut dengan gue gak akan bisa ketemu dia lagi. Tapi dia masih berhubungan baik dengan gue.
Baiklah. Bersambung.
Sabtu, 24 Desember 2011
about growing up
satu hal yang akan selalu gue temukan di hari natal: orang-orang bahagia, gue merasa bertambah tua. Hari ultah gue gak lengkap tanpa ngedengerin lagu natal, yang semakin gue dewasa gue semakin banyak berpikir (ditambah latar belakang musik gue) tentang lagu natal, seperti 'aransemennya kurang bagus', atau 'suaranya false disini', atau 'anjay, improvisasinya jelek banget malah bikin rusak'
lepas dari natal, gw lebih ingin menyinggung tentang bagian ulang tahunnya. Keapatisan gue tentang hari raya mungkin akan gue share abis natalan.
Gue melihat kalender. Posting sebelumnya gue post tgl 21 (tp ditulis 20 krn laptopnya nina emang sarap kayak yang punya). Dan sekarang tgl 24, berarti besok udah natal dan malem ini christmas eve. Pasti bakal banyak sms dari teman-teman, keluarga, dan kolega tercinta. *haish* dan seperti di postingan sebelumnya, gw harap mendapatkan ucapan selamat dari seseorang nun jauh disana (snjd). Dan gw gak yakin si snjd ini akan sms gw, gw tetap berharap.
Dan entah kenapa hari ini gue tergoda untuk membaca novel new moon, sejauh ini baru sampai hal 107. Tapi di bab awal gue menemukan kalimat yang sangat menarik:
"Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi. Aku bisa merasakannya-aku lebih tua. Setiap hari aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah, pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun." (Bella-New Moon, bab I, Stephenie Meyer)
bukan. Gue bukan takut menjadi tua seperti Bella yang takut usianya bakal lebih tua dari Edward (hal ini akan menyinggung perasaan pasangan dengan umur wanita yang lebih tua, seperti ashton kutcher-demi moore, mika hakkinen dan istrinya, bahkan raffi ahmad-yuni shara). Tapi lebih kepada kata-kata 'pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun.'
aku. 18. tahun.
18.
18 men. Gile ga tuh.
---
mengingat kejadian di bioskop:
mba penjual tiket (mpt): 'mbak, maaf mbanya smp ya? Ini film untuk dewasa mbak.'
gw: '....'
mpt: 'di bawah umur gak boleh nonton ini mbak. Maaf'
gw: *buka dompet keluarin ktp* 'bisa mbak?'
mpt: 'ohh maaf maaf mbak, abis roknya gt saya kira anak smp'
pesan moral:
sma marsud bekasi harus mengganti model seragam muridnya dengan seragam guru.
---
gila. Gue udah 18 tahun. Tua banget yah gue. Wow.
Dari situ gw sadar, usia gue sudah mulai dihitung. Ada beberapa anggapan bahwa usia 17 merupakan awal kedewasaan, dan gue sudah satu tahun melampaui batasan itu. Apa yang telah gue dapatkan? Bahkan diri gue sendiri masih merasa banyak hal dari diri gue tahun ini tidak mencerminkan kedewasaan itu sendiri. Bahkan seseorang yg pernah dekat dengan gue dulu sangat takut dengan kedewasaan, atau kewajiban untuk menjadi dewasa.
Kedewasaan.
Apa sih sebenarnya itu? Banyak orang mendeklarasikan parameter-parameter kedewasaan, tapi cara meraihnya? Tentu aja beda untuk setiap orang. Sama halnya dengan teori relativitas einstein, gak bisa ditemukan cara mutlak untuk membuat atau melayakkan seseorang itu dewasa.
Baiklah, tidak menyinggung orang lain, mari dimulai dari diri gue sendiri. Ketika gue membaca tulisan lama gue, waktu smp...entah berapa ribu tahun silam rasanya.. Dan ketika gue bandingkan dengan tulisan gue sekarang ini....
Beda.
Maksudnya gue masih pribadi yang sama, tapi dengan cara menulis gue yang menandakan cara berpikir gue bisa ditemukan kalau hal itu sudah berbeda. Gue menertawakan kebodohan gue di masa lalu, takjub juga gimana gue bisa mengambil suatu kejadian simpel dalam kegiatan sehari-hari menjadi hal yang lucu untuk ditertawakan. Dan bikin gue kangen sama temen-temen deket gue dulu, yang udah nggak sedeket sekarang. Bahkan nina dan ochi sekalipun, mereka sekarang punya dunia mereka sendiri, bersama pacarnya, gamenya, teman-teman sekelasnya... Kind of like that. Thomas dan sam juga udah di jakarta dengan teman-temannya. Begitu juga diri gue sendiri yang punya dunia gue sendiri (tidak, gue tidak mengidap skizofrenia atau autisme), maksudnya gue punya kesibukan sendiri. Contohnya padus sama wika, iren, juan, dsb.. Gue menemukan bahwa gue juga bersosialisasi dan dekat dengan orang-orang baru ini.
Dan gue menengok peristiwa-peristiwa yang terjadi. Gue bisa berpikir secara dewasa, menanggapi sesuatu dengan kepala dingin dan rasional. Banyak yang bilang gue lebih dewasa dlm emosi dibandingkan anak seusia gue. Dan gue merasa demikian, sampai gue sendiri takjub 'wow. Gue bisa berpikir sejauh itu.' tapi ketika menghadapi hal lain, gue bisa sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Dan gue sadar itu sikap yang sangat kekanak-kanakan. Seperti gagal memilih keputusan terbaik dan terlalu cepat bertindak berdasarkan emosi sesaat baik di saat gue senang atau marah. Dan gue sadar itu salah tapi tetap dilakukan. Dan saat ini gue menyesal dan berharap gak pernah terjadi, tapi itu udah terjadi.
Baru itu saja yang bisa gue tuliskan sekarang. Ini satu tahun pertama dan gue harap gue bisa lebih baik lagi mengambil tiap keputusan dalam kehidupan berikutnya.
Hpbd.
lepas dari natal, gw lebih ingin menyinggung tentang bagian ulang tahunnya. Keapatisan gue tentang hari raya mungkin akan gue share abis natalan.
Gue melihat kalender. Posting sebelumnya gue post tgl 21 (tp ditulis 20 krn laptopnya nina emang sarap kayak yang punya). Dan sekarang tgl 24, berarti besok udah natal dan malem ini christmas eve. Pasti bakal banyak sms dari teman-teman, keluarga, dan kolega tercinta. *haish* dan seperti di postingan sebelumnya, gw harap mendapatkan ucapan selamat dari seseorang nun jauh disana (snjd). Dan gw gak yakin si snjd ini akan sms gw, gw tetap berharap.
Dan entah kenapa hari ini gue tergoda untuk membaca novel new moon, sejauh ini baru sampai hal 107. Tapi di bab awal gue menemukan kalimat yang sangat menarik:
"Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi. Aku bisa merasakannya-aku lebih tua. Setiap hari aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah, pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun." (Bella-New Moon, bab I, Stephenie Meyer)
bukan. Gue bukan takut menjadi tua seperti Bella yang takut usianya bakal lebih tua dari Edward (hal ini akan menyinggung perasaan pasangan dengan umur wanita yang lebih tua, seperti ashton kutcher-demi moore, mika hakkinen dan istrinya, bahkan raffi ahmad-yuni shara). Tapi lebih kepada kata-kata 'pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun.'
aku. 18. tahun.
18.
18 men. Gile ga tuh.
---
mengingat kejadian di bioskop:
mba penjual tiket (mpt): 'mbak, maaf mbanya smp ya? Ini film untuk dewasa mbak.'
gw: '....'
mpt: 'di bawah umur gak boleh nonton ini mbak. Maaf'
gw: *buka dompet keluarin ktp* 'bisa mbak?'
mpt: 'ohh maaf maaf mbak, abis roknya gt saya kira anak smp'
pesan moral:
sma marsud bekasi harus mengganti model seragam muridnya dengan seragam guru.
---
gila. Gue udah 18 tahun. Tua banget yah gue. Wow.
Dari situ gw sadar, usia gue sudah mulai dihitung. Ada beberapa anggapan bahwa usia 17 merupakan awal kedewasaan, dan gue sudah satu tahun melampaui batasan itu. Apa yang telah gue dapatkan? Bahkan diri gue sendiri masih merasa banyak hal dari diri gue tahun ini tidak mencerminkan kedewasaan itu sendiri. Bahkan seseorang yg pernah dekat dengan gue dulu sangat takut dengan kedewasaan, atau kewajiban untuk menjadi dewasa.
Kedewasaan.
Apa sih sebenarnya itu? Banyak orang mendeklarasikan parameter-parameter kedewasaan, tapi cara meraihnya? Tentu aja beda untuk setiap orang. Sama halnya dengan teori relativitas einstein, gak bisa ditemukan cara mutlak untuk membuat atau melayakkan seseorang itu dewasa.
Baiklah, tidak menyinggung orang lain, mari dimulai dari diri gue sendiri. Ketika gue membaca tulisan lama gue, waktu smp...entah berapa ribu tahun silam rasanya.. Dan ketika gue bandingkan dengan tulisan gue sekarang ini....
Beda.
Maksudnya gue masih pribadi yang sama, tapi dengan cara menulis gue yang menandakan cara berpikir gue bisa ditemukan kalau hal itu sudah berbeda. Gue menertawakan kebodohan gue di masa lalu, takjub juga gimana gue bisa mengambil suatu kejadian simpel dalam kegiatan sehari-hari menjadi hal yang lucu untuk ditertawakan. Dan bikin gue kangen sama temen-temen deket gue dulu, yang udah nggak sedeket sekarang. Bahkan nina dan ochi sekalipun, mereka sekarang punya dunia mereka sendiri, bersama pacarnya, gamenya, teman-teman sekelasnya... Kind of like that. Thomas dan sam juga udah di jakarta dengan teman-temannya. Begitu juga diri gue sendiri yang punya dunia gue sendiri (tidak, gue tidak mengidap skizofrenia atau autisme), maksudnya gue punya kesibukan sendiri. Contohnya padus sama wika, iren, juan, dsb.. Gue menemukan bahwa gue juga bersosialisasi dan dekat dengan orang-orang baru ini.
Dan gue menengok peristiwa-peristiwa yang terjadi. Gue bisa berpikir secara dewasa, menanggapi sesuatu dengan kepala dingin dan rasional. Banyak yang bilang gue lebih dewasa dlm emosi dibandingkan anak seusia gue. Dan gue merasa demikian, sampai gue sendiri takjub 'wow. Gue bisa berpikir sejauh itu.' tapi ketika menghadapi hal lain, gue bisa sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Dan gue sadar itu sikap yang sangat kekanak-kanakan. Seperti gagal memilih keputusan terbaik dan terlalu cepat bertindak berdasarkan emosi sesaat baik di saat gue senang atau marah. Dan gue sadar itu salah tapi tetap dilakukan. Dan saat ini gue menyesal dan berharap gak pernah terjadi, tapi itu udah terjadi.
Baru itu saja yang bisa gue tuliskan sekarang. Ini satu tahun pertama dan gue harap gue bisa lebih baik lagi mengambil tiap keputusan dalam kehidupan berikutnya.
Hpbd.
Selasa, 20 Desember 2011
merry xmas and happy new year
klise banget ya.
okay... mari kita melihat tanggalan...
21 desember 2011
not yet christmas nor new year.
jadi. biasanya di sekolahan gw yang adalah sekolahan yang berbahan dasar katolik, tanggal-tanggal segini adalah tanggal bahagia. kenapa? karena ujian telah usai, rapot telah di tangan, dan saat ini menikmati liburan dengan mencurahkan seluruh isi otak hingga pas masuk nanti..yah... jadi bego lagi. emang yang terakhir ini fakta yang menyakitkan, jadi gue mencoba mambaca buku pelajaran biar setidaknya ada ilmu yang keserap.
oh ya. da posting ini isinya random. gak jelas intinya apaan karena terlalu banyak yang ingin disampaikan.
baiklah. kalau begitu mari kita buat per poin.
1. apa kabar nilai rapot???
okay... mari kita melihat tanggalan...
21 desember 2011
not yet christmas nor new year.
jadi. biasanya di sekolahan gw yang adalah sekolahan yang berbahan dasar katolik, tanggal-tanggal segini adalah tanggal bahagia. kenapa? karena ujian telah usai, rapot telah di tangan, dan saat ini menikmati liburan dengan mencurahkan seluruh isi otak hingga pas masuk nanti..yah... jadi bego lagi. emang yang terakhir ini fakta yang menyakitkan, jadi gue mencoba mambaca buku pelajaran biar setidaknya ada ilmu yang keserap.
oh ya. da posting ini isinya random. gak jelas intinya apaan karena terlalu banyak yang ingin disampaikan.
baiklah. kalau begitu mari kita buat per poin.
1. apa kabar nilai rapot???
jawabannya... di kala gue sedang mengalami mood yang baik dan tidak dalam posisi sedang ingin membunuh sesuatu (nyamuk, mostly), gue akan menjawab, "Yah.. lumayan kok. rata-ratanya bagus.. tapi rankingnya kurang baik." dan disaat gue bete dan kemungkinan yang nanya bakal gue pelototin, gue akan jawab, "ranking gue turun jauh. terjun. puas lo? PUAS?"
baiklah. karena ini tempat umum, gue akan menjawab dengan gaya bahasa ameliorasi.
cukup bagus, tidak jelek sama sekali. setidaknya itu yang bisa dilihat secara obyektif. tapi rankingnya turun dibanding yang lalu di kelas 11, dan bisa aja mempengaruhi kesempatan dapet beasiswa dari universitas. ha ha ha.... ya udah lah ya nat. hadapi aja.
dan ini menjadi pelajaran juga buat yang baca blog ini. lebih baik buat pelajaran, apalagi di masa-masa akhir sekolah anda, usahakan jangan terlalu banyak kegiatan non akademis, karena bakal ngerusak bgt kinerja belajar apalagi kalo hal itu pengen segera dilakuin abis sekolah. di kasus ini... paduan suara. gue cinta banget sama dunia ini. walo kadang gw sebel sama orang-orangnya, sama pelatihnya, sama pendampingnya, sama partiturnya....gue CINTA ekskul ini. banget.
sampe kecintaan gue ni bikin gue ga konsen dan...tada. gw ga telaten belajar dan...bisa dilihat hasilnya. angka 8 menjadi angka start tahun depan.
btw ini contoh hasil kerja padus, memang belum sempurna tp gw percaya mereka bisa lebih baik lagi th depan. haleluya.
dan hal yang lain..masalah hati. tidak bisa dibahas sekarang, mungkin suatu hari nanti ketika gue akan melihat ini dan hanya akan menertawakan kelabilan gue di masa SMA. memang bukan salah dia, tapi gue sempat mengalami friksi dengan org ini sampai gak komunikasi 3 bulan, menyiksa diri sendiri...dan berakhir dengan tetap menyiksa diri sendiri. pathetic,
2. gimana dengan fokus tahun depan?
klisenya adalah "being a better person than last year". dan 'better' itu nggak bisa dideskripsikan secara benar oleh orang lain karena pada dasarnya pandangan tiap orang beda. tapi dari apa yang gue alami tahun ini, berkaca akan apa yang telah terjadi... oh gosh. labil banget gue. apa pula itu galau dan segala macem? kenapa gue melakukan hal itu... aaaarrrrgghhhh...!!
yang jelas gue sudah cukup baik. gada orang yang menilai dirinya gak baik karena tiap orang pasti punya subyektivitas. tapi gue belum menjadi pribadi yang gue harap seharusnya gue lakukan. banyak hal tahun ini yg gue lakukan sangat tidak matang, tidak seharusnya dilakukan mungkin, dan sekarang yang bisa dilakukan hanya menyesalinya aja.
tapi diantara kesalahan yang gue lakukan, dari situ gue belajar lagi. untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa yang akan datang. tidak memilih pacar yang salah contohnya, haha... kisah yang akhirnya merembet ke 3 pihak dimana satu pihak pecah belah dan satu pihak lagi berantakan dan satu lagi bingung ada di tengah dan terseret ke kasus ini. untungnya semua pihak sekarang bisa menyikapi dengan sikap dewasa, dan itu yang lebih penting. dan soal nilai semester ini yang kalah mengalami kemajuan dengan yang lain... gimana ya. diri ini mungkin merasa sudah maksimal, padahal nyatanya belum. jadi tahun depan...gue mengototkan niat gue untuk tembus ptn kedokteran (gue juga bingung apa maksudnya dengan mengototkan, apakah artinya menjadi otot? bisakah terjadi fermentasi asam laktat? maksud gw sebenernya adalah bener-bener menguatkan tekad). alasan gue mungkin akan terdengar sangat mulia, gue ingin kerja buat orang-orang yang gak mampu atau perang, tapi gue sadar ada alasan lain yang kayaknya lebih gw pikirin dibanding alasan di atas: gengsi. yak. gengsi. banyak sekali orang yang sangsi gue sanggup masuk kedokteran, BAYAR biaya kedokteran, jadinya menentang gue masuk ke bidang itu padahal itu adalah bidang yang dimana gue merasa terpanggil walau gue mungkin punya bakat lain. jadi, fokus gue tahun depan adalah berhasil tembus kedokteran, ptn kalo Tuhan mengizinkan. dan gue harus kembali menggeser alasan gue kembali ke alasan mulia itu, bukan sekedar gengsi semata. dan gue harus lebih mengandalkan Tuhan, krn selama ini gue terlalu duniawi dan mengandalkan kekuatan sendiri. karena kekuatan yang dari atas itu gak bisa dijelaskan dengan akal rasional manapun tapi menjadi sebuah kunci penentu di kehidupan ini.
3. merry christmas
dan kalo ngeliat tanggal ultah gue, yap, it's also my 18th birthday. wow. how old i am. tau-tau gue bakal berusia 20, mungkin bakal dikejer-kejer dengan pertanyaan 'kapan kawin???'
melihat teman-teman gue, adik-adik gue, yang semua berada dalam euforia sweet seventeenth.. whoa, tgl 4hari lagi gue merasakan hal itu. bahkan sekarang aja gw merasa udah genap 18 karena perayaan natal udah dirayain duluan juga. haha tragis.
dan ultah. biasanya ada keluarga dan teman, dan kue dan lilin, dan balon. khusus yang terakhir itu gue sangat anti karena gue baloonphobia dan gue bakal nangis kejer kalo ada yang ngasih gue balon. keluarga menjadi alasan utama gue nggak mudik kali ini. bukan, bukan keluarga besar, khusus keluarga kecil gue: nyokap, maknur. sudah selesai. bokap memang dimakamkan di salatiga, tapi gue percaya roh nya gak semerta-merta cm bisa keliling area sana doang. nyokap, 3 tahun ini gue ultah gak pernah sama nyokap, selalu saja ada urusan di gerejanya atau segala macem sehingga gue harus mengalami ultah tanpa ortu. hal ini suka bikin gue hanya menatap nanar temen gue yang ultah sweet 17th didampingi ortunya, gue ingin sekali mengalami yang kalian rasakan tapi sulit sekali, hiks. jadi gue akan mengisolasi nyokap di rumah di bekasi ini *evil grin* walo suka berantem gimana pun dialah nyokap gue yang ngelahirin gue. dan dia yang menjadi hal paling berharga di hidup gue sekarang. sekalian juga happy mother's day, ma (maaf tapi aku harus pergi karena arnold ngajak nonton rame-rame gratis :p).. dan mak nur. orang bisa bilang dia cuma si mbok, bibi, atau paling kasar: pembok*t (terkutuklah kalian yang menyebut julukan yang terakhir itu), tapi mak nur adalah orang yang merawat gue dari bahkan balum lahir, sejak nyokap hamil gue, gue mbrojol, dan ngurus sampe gue segede karung beras gini, dia udah kayak ibu kedua buat gue. kenapa gue harus jauh-jauh mengambil figur keluarga kalau mereka ada disini?
birthday wish, kayaknya ini klise banget. toh gak cuma pas ultah lo make a wish. you have MUCH in your life time for making wishes. gue bukan orang yang melodramatis dan gue gak terlalu percaya dengan hal-hal begituan, sejak 2th lalu gue gak pernah sempat mikirin birthday wish gue karena lilinnya keburu meleleh. gue gak bisa mikirin selain hal yang remeh-temeh dalam waktu cuma 5 detik apalagi dalam keadaan ngeblank. tapi kalo disuruh bikin sekarang (dan gue akan hafalkan buat berikutnya) gue akan minta Tuhan supaya orang-orang yang inget ultah gue, yang ngucapin atau nggak, yang gue cintai maupun benci setengah mati, supaya mereka bahagia. itu aja. kebahagiaan toh relatif, Tuhan tau apa yang mereka butuhkan. buat yang ga inget, ya udah semoga mereka inget. hehe
dan satu lagi. gue sangat berharap orang yang sekarang nun jauh disana dan terakhir ketemu gue tanggal 16 Juni di kantin sekolah inget ultah gue, untung-untung ngucapin, karena itu bakal sangat berarti banget buat gue.
kayaknya udah cukup posting yang panjang gila ini. sebagai penutup, ini adalah foto gue waktu makrab padus, itu sebelah gue adalah pemimpin komsel gw, Ade, gak ada alesan apa-apa gue naroh foto yang sama dia, tapi karena gue terlihat cukup cantik di foto ini >:p
have a very merry christmas dan happy new year!
jangan takut kiamat
regards,
Natahara
Jumat, 09 Desember 2011
free speaking, free writing
ini menjadi tema blog gue mulai tahun 2011 ini.
kenapa free speaking and free writing?
tapi pertama, gue tidak mendukung kebebasan sebebas-bebasnya tanpa batas, karena secara kodrat kita sebagai menusia pun punya banyak batasan dalam kehidupan baik secara mental, fisik, dan sebagainya. maka sebagai warga negara indonesia yang baik, gue masih menerapkan ideologi pancasila dan politik bebas-aktif.

seringkali kita menemukan susah banget untuk nulis dalam artian formal. harus menerapkan kaidah bahasa, kaidah tata krama, kaidah-kaidah lainnya... apalagi menyangkut topik sensitif, bakal sulit banget untuk mempublikasikan hal itu ke masyarakat umum. nanti adanya malah lagi-lagi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya nyambung ke urusan dengn hukum, padahal pada awalnya kita gak berniat begitu.
contohnya, dalu jaman gue mos pernah gue tulis mengenai kegiatan mos yang gue gak suka, atau pembicaranya yang sangat tidak realitis dan hanya berorientasikan kepada semata-mata impian saja, bukan target *maaf, jadi curhat*. gue tulis itu di laporan mos, dan juga di blog, ujung-ujungnya gue dihukum. memang salah gue juga sih, dari situ gue belajar juga kode etik nulis, yaitu gak nulis orang yang gue kritisi kelwat frontal sampe sebut merek. tapi sebagai pribadi, gue akui masih labil ini, ada sebagian besar jiwa gue yang ingin berteriak "tolong ya, coba anda yang ada di pihak saya!" tapi hal ini akan segera mengakibatkan gue mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat. ah sial.... -____-
ketika kita menulis, pasti ada maksud dibalik tulisan itu. dipungkiri atau tidak pasti ada saja hal yang melatarbelakangi tulisan yang kita buat. bahkan untuk sekedar bikin tweet atau status fb gue bisa ngedit kata-katanya sampe beberapa kali cuma untuk sebuah kata yang contohnya pagi ini:
"Haunted"
terhantui. diambil dari lagu evanescence. karena gue memang hari ini dalam posisi menggalau karena lagi-lagi harus menunggu seseorang yang menciptakan pahit-manis di dalam kehidupan gue. tadinya gue mau tulis "my imaginary", lagu evanescence juga. atau frontal "i'm still waiting". atau yang sarap banget frontalnya "eh, gue nungguin lo di perpus jam .. karena gue masih mengharapkan elu", nah yang ini ada juga, biasanya sepupu gue masih nulis frontal gini sampe ada yang komen gak enak di statusnya. aah... balada facebook.
tapi jujur gue masih bingung sama orang yang nulis cuma "hoaahhmm.. ngantuk."
gue yakin, apalagi generasi muda sekarang, punya banyak ide dan pikiran untuk disampaikan, tapi masih suka segan untuk mengutarakannya. mungkin ide tentang nulis cerita, kayak temen gue Adrianus yang lagi blogging juga di sebelah gue (kenapasayamaulagi.wordpress.com). ekspresikan saja yang jadi ide lo, baik itu out of stream, selama itu menjadi gaya atau ciri dari lo.
tentang cerita, gue lagi bikin sebuah cerita di note fb yang ceritanya rada aneh. tapi belum gue terusin lagi. mungkin gue bakal posting suatu saat gue gak posting dari perpus.
fine guys. keep writing your free mind!
kenapa free speaking and free writing?
tapi pertama, gue tidak mendukung kebebasan sebebas-bebasnya tanpa batas, karena secara kodrat kita sebagai menusia pun punya banyak batasan dalam kehidupan baik secara mental, fisik, dan sebagainya. maka sebagai warga negara indonesia yang baik, gue masih menerapkan ideologi pancasila dan politik bebas-aktif.
seringkali kita menemukan susah banget untuk nulis dalam artian formal. harus menerapkan kaidah bahasa, kaidah tata krama, kaidah-kaidah lainnya... apalagi menyangkut topik sensitif, bakal sulit banget untuk mempublikasikan hal itu ke masyarakat umum. nanti adanya malah lagi-lagi kesalahpahaman yang ujung-ujungnya nyambung ke urusan dengn hukum, padahal pada awalnya kita gak berniat begitu.
contohnya, dalu jaman gue mos pernah gue tulis mengenai kegiatan mos yang gue gak suka, atau pembicaranya yang sangat tidak realitis dan hanya berorientasikan kepada semata-mata impian saja, bukan target *maaf, jadi curhat*. gue tulis itu di laporan mos, dan juga di blog, ujung-ujungnya gue dihukum. memang salah gue juga sih, dari situ gue belajar juga kode etik nulis, yaitu gak nulis orang yang gue kritisi kelwat frontal sampe sebut merek. tapi sebagai pribadi, gue akui masih labil ini, ada sebagian besar jiwa gue yang ingin berteriak "tolong ya, coba anda yang ada di pihak saya!" tapi hal ini akan segera mengakibatkan gue mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat. ah sial.... -____-
ketika kita menulis, pasti ada maksud dibalik tulisan itu. dipungkiri atau tidak pasti ada saja hal yang melatarbelakangi tulisan yang kita buat. bahkan untuk sekedar bikin tweet atau status fb gue bisa ngedit kata-katanya sampe beberapa kali cuma untuk sebuah kata yang contohnya pagi ini:
"Haunted"
terhantui. diambil dari lagu evanescence. karena gue memang hari ini dalam posisi menggalau karena lagi-lagi harus menunggu seseorang yang menciptakan pahit-manis di dalam kehidupan gue. tadinya gue mau tulis "my imaginary", lagu evanescence juga. atau frontal "i'm still waiting". atau yang sarap banget frontalnya "eh, gue nungguin lo di perpus jam .. karena gue masih mengharapkan elu", nah yang ini ada juga, biasanya sepupu gue masih nulis frontal gini sampe ada yang komen gak enak di statusnya. aah... balada facebook.
tapi jujur gue masih bingung sama orang yang nulis cuma "hoaahhmm.. ngantuk."
apa yang anda maksudkan? ngantuk malah buka fb, bukannya tidur? apalagi kalo ditulis dengan gaya sok imut: "Hoahhhmmm,,,, ngantuuucchh niiiccchh,,,", atau gaya alay "Ho44mmm,,'',,'' n94ntuXX n13cHH!!"; dengan nulis gitu aja udah makan waktu juga kale, kenapa lo kaga tidur aja?
tapi ya gimanapun itu adalah kebebasan dia, walo cuma nyampah di timeline. :D
gue yakin, apalagi generasi muda sekarang, punya banyak ide dan pikiran untuk disampaikan, tapi masih suka segan untuk mengutarakannya. mungkin ide tentang nulis cerita, kayak temen gue Adrianus yang lagi blogging juga di sebelah gue (kenapasayamaulagi.wordpress.com). ekspresikan saja yang jadi ide lo, baik itu out of stream, selama itu menjadi gaya atau ciri dari lo.
tentang cerita, gue lagi bikin sebuah cerita di note fb yang ceritanya rada aneh. tapi belum gue terusin lagi. mungkin gue bakal posting suatu saat gue gak posting dari perpus.
fine guys. keep writing your free mind!
Langganan:
Entri (Atom)

