satu hal yang akan selalu gue temukan di hari natal: orang-orang bahagia, gue merasa bertambah tua. Hari ultah gue gak lengkap tanpa ngedengerin lagu natal, yang semakin gue dewasa gue semakin banyak berpikir (ditambah latar belakang musik gue) tentang lagu natal, seperti 'aransemennya kurang bagus', atau 'suaranya false disini', atau 'anjay, improvisasinya jelek banget malah bikin rusak'
lepas dari natal, gw lebih ingin menyinggung tentang bagian ulang tahunnya. Keapatisan gue tentang hari raya mungkin akan gue share abis natalan.
Gue melihat kalender. Posting sebelumnya gue post tgl 21 (tp ditulis 20 krn laptopnya nina emang sarap kayak yang punya). Dan sekarang tgl 24, berarti besok udah natal dan malem ini christmas eve. Pasti bakal banyak sms dari teman-teman, keluarga, dan kolega tercinta. *haish* dan seperti di postingan sebelumnya, gw harap mendapatkan ucapan selamat dari seseorang nun jauh disana (snjd). Dan gw gak yakin si snjd ini akan sms gw, gw tetap berharap.
Dan entah kenapa hari ini gue tergoda untuk membaca novel new moon, sejauh ini baru sampai hal 107. Tapi di bab awal gue menemukan kalimat yang sangat menarik:
"Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi. Aku bisa merasakannya-aku lebih tua. Setiap hari aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah, pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun." (Bella-New Moon, bab I, Stephenie Meyer)
bukan. Gue bukan takut menjadi tua seperti Bella yang takut usianya bakal lebih tua dari Edward (hal ini akan menyinggung perasaan pasangan dengan umur wanita yang lebih tua, seperti ashton kutcher-demi moore, mika hakkinen dan istrinya, bahkan raffi ahmad-yuni shara). Tapi lebih kepada kata-kata 'pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun.'
aku. 18. tahun.
18.
18 men. Gile ga tuh.
---
mengingat kejadian di bioskop:
mba penjual tiket (mpt): 'mbak, maaf mbanya smp ya? Ini film untuk dewasa mbak.'
gw: '....'
mpt: 'di bawah umur gak boleh nonton ini mbak. Maaf'
gw: *buka dompet keluarin ktp* 'bisa mbak?'
mpt: 'ohh maaf maaf mbak, abis roknya gt saya kira anak smp'
pesan moral:
sma marsud bekasi harus mengganti model seragam muridnya dengan seragam guru.
---
gila. Gue udah 18 tahun. Tua banget yah gue. Wow.
Dari situ gw sadar, usia gue sudah mulai dihitung. Ada beberapa anggapan bahwa usia 17 merupakan awal kedewasaan, dan gue sudah satu tahun melampaui batasan itu. Apa yang telah gue dapatkan? Bahkan diri gue sendiri masih merasa banyak hal dari diri gue tahun ini tidak mencerminkan kedewasaan itu sendiri. Bahkan seseorang yg pernah dekat dengan gue dulu sangat takut dengan kedewasaan, atau kewajiban untuk menjadi dewasa.
Kedewasaan.
Apa sih sebenarnya itu? Banyak orang mendeklarasikan parameter-parameter kedewasaan, tapi cara meraihnya? Tentu aja beda untuk setiap orang. Sama halnya dengan teori relativitas einstein, gak bisa ditemukan cara mutlak untuk membuat atau melayakkan seseorang itu dewasa.
Baiklah, tidak menyinggung orang lain, mari dimulai dari diri gue sendiri. Ketika gue membaca tulisan lama gue, waktu smp...entah berapa ribu tahun silam rasanya.. Dan ketika gue bandingkan dengan tulisan gue sekarang ini....
Beda.
Maksudnya gue masih pribadi yang sama, tapi dengan cara menulis gue yang menandakan cara berpikir gue bisa ditemukan kalau hal itu sudah berbeda. Gue menertawakan kebodohan gue di masa lalu, takjub juga gimana gue bisa mengambil suatu kejadian simpel dalam kegiatan sehari-hari menjadi hal yang lucu untuk ditertawakan. Dan bikin gue kangen sama temen-temen deket gue dulu, yang udah nggak sedeket sekarang. Bahkan nina dan ochi sekalipun, mereka sekarang punya dunia mereka sendiri, bersama pacarnya, gamenya, teman-teman sekelasnya... Kind of like that. Thomas dan sam juga udah di jakarta dengan teman-temannya. Begitu juga diri gue sendiri yang punya dunia gue sendiri (tidak, gue tidak mengidap skizofrenia atau autisme), maksudnya gue punya kesibukan sendiri. Contohnya padus sama wika, iren, juan, dsb.. Gue menemukan bahwa gue juga bersosialisasi dan dekat dengan orang-orang baru ini.
Dan gue menengok peristiwa-peristiwa yang terjadi. Gue bisa berpikir secara dewasa, menanggapi sesuatu dengan kepala dingin dan rasional. Banyak yang bilang gue lebih dewasa dlm emosi dibandingkan anak seusia gue. Dan gue merasa demikian, sampai gue sendiri takjub 'wow. Gue bisa berpikir sejauh itu.' tapi ketika menghadapi hal lain, gue bisa sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Dan gue sadar itu sikap yang sangat kekanak-kanakan. Seperti gagal memilih keputusan terbaik dan terlalu cepat bertindak berdasarkan emosi sesaat baik di saat gue senang atau marah. Dan gue sadar itu salah tapi tetap dilakukan. Dan saat ini gue menyesal dan berharap gak pernah terjadi, tapi itu udah terjadi.
Baru itu saja yang bisa gue tuliskan sekarang. Ini satu tahun pertama dan gue harap gue bisa lebih baik lagi mengambil tiap keputusan dalam kehidupan berikutnya.
Hpbd.
0 comment(s):
Poskan Komentar
silakan sms disini